Saturday, 30 October 2010

Non Aktifkan Klik Kanan Dengan Plugin

Setelah googling untuk mencari script yang dapat menonaktifkan klik kanan, akhirnya saya menemukan ternyata ada plugin khusus bagi sobat blogger yang menggunakan mesin Wordpres yang dapat menonaktifkan klik kanan sekaligus menonaktifkan seleksi. Plugin ini berguna bagi sobat yang ingin agar tulisan dalam blog kita tidak dapat dicopy tanpa seijin kita. Ya, dengan plugin ini, pengunjung blog tidak bisa mengklik kanan untuk memunculkan pilihan salin atau copy. Begitu juga pengunjung blog tidak bisa melakukan seleksi untuk memudian mengcopy tulisan blog tanpa seijin pemiliki blog.
Kelebihan dari plugin ini adalah bahwa kita bisa sewaktu-waktu memproteksi atau tidak memproteksi tulisan blog kita. Hal ini dimungkikan karena sobat tinggal masuk ke Dashboar Wodpress dan tinggal kilik saja pilihan untuk mengaktifkan klik kanan atau tidak.
Selain itu, ada juga pilihan untuk menonaktifkan klik kanan dengan memberikan pesan tertentu. Misalnya ketika ada pengunjung blog mengklik kanan, akan muncul dialog box berisi pesan yang sudah kita atur seperti "MAAF DILARANG MENGCOPY TANPA SEIJIN PEMILIK BLOG".
Terdapat juga pilihan untuk mengaktifkan atau tidak seleksi teks. Jika blok terhadap seleksi teks diaktifkan, pengunjung tidak bisa melakukan seleksi atau memblok sebagaian atau semua teks tulisan. Sebaliknya kalau blok terhadap seleksi teks tidak diaktifkan maka pengunjung dapat melakukan seleksi atau memblok sebagian atau semua tulisan dalam blog kita dan kemudian bisa melakukan copy dengan Ctrl-C.
Plugin ini bisa didownload di link berikut ini : WP-CopyProtect. Untuk memasang plugin, silahkan upload ke folder public_html --> wp-content --> plugins. Jangan lupa ekstrak dulu filenya. Kemudian masuk ke Dasboar Wordpress dan aktifkan plugin tersebut. Bila sudah aktif maka menu WP-CopyProtect muncul di bagian Settings. 
Nah, selamat mencoba.

Thursday, 21 October 2010

Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pajak

Seperti yang telah kita ketahui, jalannya pemerintahan ini sebagian besar dibiayai pajak. Ya, memang sekitar 70% s/d 75% APBN kita sumber pembiayaannya adalah dari sektor pajak. Nah, kebayang kan betapa pentingnya arti pajak bagi negara ini?
Jenis pajak yang sangat dominan terhadap penerimaan perpajakan ini adalah Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) adalah institusi di bawah Kementrian Keuangan yang diberi tugas untuk mengelola kedua jenis pajak itu melalui fungsi pelayanan, penyuluhan dan pengawasan terhadap Wajib Pajak. Setiap tahunnya DJP dibebani tugas untuk menghimpun penerimaan pajak, terutama dari kedua jenis pajak ini.


Dalam rangka mengamankan penerimaan pajak yang telah ditargetkan ini, Direktorat Jenderal Pajak melakukan dua pendekatan yaitu kegiatan intensifikasi pajak dan kegiatan ekstensifikasi pajak.
Kegiatan intensifikasi pajak dilakukan dengan mengoptimalkan penerimaan pajak dari Wajib Pajak yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak. Ya, sasaranya adalah orang atau badan yang telah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) tentunya. Ya, kalau kita bandingkan dengan petani, kegiatan intensifikasi ini adalah bagaimana mengoptimalkan produksi padi dengan lahan yang sudah ada. Caranya misalnya mengoptimalkan pemupukan, pengairan dan pembasmian hama.
Nah, kalau dalam intensifikasi pajak, terdapat tiga istilah terkait intensifikasi ini yaitu mapping atau pemetaan, profilling atau pembuatan profil dan benchmarking atau pembandingan. Ketiga kegiatan ini didukung dengan kegiatan pengumpulan data baik dari internal DJP maupun dari eksternal DJP.
Kegiatan tersebut dilakukan secara terpadu untuk menemukan adanya indikasi potensi pajak yang belum tergali yang biasanya dilakukan oleh petugas Account Representative. Proses ini diawali dengan analisa oleh AR yang kemudian bisa dilanjutkan dengan pengiriman surat himbauan kepada Wajib Pajak untuk membetulkan SPT yang telah dilaporkan. Terhadap Wajib Pajak juga bisa dilakukan kegiatan konseling di mana Wajib Pajak dan petugas pajak akan mencari titik temu terhadap perbedaan pendapat atas suatu hal yang dipermasalahkan.
Di sisi lain, kegiatan ekstensifikasi pajak dimaksudkan untuk menambah jumlah Wajib Pajak terdaftar, terutama Wajib Pajak Orang Pribadi. Ya, hal ini dilakukan karena rasanya masih ada orang pribadi yang penghasilannya melebihi PTKP tetapi belum memiliki NPWP.
Pendekatan yang dilakukan selama ini adalah pendekatan kepada pemberi kerja seperti perusahaan dan instansi untuk bekerjasama mendaftarkan karyawannya secara kolektif ke Kantor Pelayanan Pajak tempat perusahaan atau instansi tersebut terdaftar. Pendekatan lainnya adalah pendekatan properti. Pendekatan ini menggunakan data NJOP PBB dengan nilai tertentu untuk melakukan pendataan dan sekaligus untuk mengecek orang pribadi yang memiliki atau memanfaatkan tanah/bangunan tersebut sudah memiliki NPWP atau belum. Pendekatan ini lebih kepada properti yang menjadi pusat kegiatan ekonomi atau yang dimiliki oleh orang yang memiliki potensi ekonomi tinggi seperti pusat-pusat perbelanjaan dan apartemen.
Nah, diharapkan, dengan kedua jenis kegiatan yang dilakukan oleh DJP ini, penerimaan pajak akan semakin meningkat dan dapat mencapai target sekaligus bisa menaikkan angka Tax Ratio negara kita.

Palembang, 20 - 10 - 2010

(sekitar jam 7.30 malam menjelang pergi ke Pal TV untuk mengisi acara talk show tentang masalah di atas)

Mengapa Kita Perlu Passive Income

Ada dua jenis penghasilan dilihat dari cara mendapatkannya. Pertama adalah passive income dan yang kedua adalah active income. Active income kita peroleh setelah kita melakukan suatu usaha untuk mendapatkannya. Misal kita bekerja pada suatu perusahaan dan setiap bulan kita akan mendapatkan gaji. Atau kita membuka praktek keahlian seperti dokter, pengacara atau arsitek. Nah, untuk mendapatkan active income ini biasanya kita harus mengeluarkan tenaga dan waktu. Penghasilan kita berbanding lurus dengan usaha atau waktu kita.


Tidak demikian dengan passive income yang merupakan jenis penghasilan lainnya. Penghasilan pasif ini adalah penghasilan yang diperoleh tanpa memerlukan usaha atau kerja serta waktu. Artinya, penghasilan ini bisa datang sendiri tidak tergantung kepada berapa besar usaha kita dan tidak mengorbankan waktu kita. Penghasilan ini biasanya berbanding lurus dengan besarnya modal. Dengan demikian, jika kita menginginkan passive income, maka tentunya kita perlu mengumpulkan modal terlebih dahulu. Sayangnya sebagian besar kita tidak punya cukup modal untuk mendapatkan passive income yang besar. Betul tidak? Ya, kecuali Sobat anak orang kaya raya yang akan mendapatkan warisan yang sangat banyak, hehehe.
Nah, karena yang tidak tergantung pada usaha dan kerja maka, kita memerlukan passive income dalam hidup kita karena :
  1. Sobat semua pasti memerlukan lebih banyak waktu untuk keluarga. Ya, jika Sobat menginginkan kehidupan yang bahagia, maka Anda memerlukan banyak waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang tercinta. Alangkah indahnya hidup ini bila kita selalu bersama anak-anak dan istri di rumah. Kita bisa menemaninya bermain dan belajar. Kita bisa membantu memantau tumbuh kembang anak kita. Kita bisa menjadi sahabat anak kita.
  2. Sobat memerlukan waktu untuk hobi dan kesenangan. Salah satu kunci kebahagiaan kita hidup di dunia adalah apabila kita bisa melakukan hal-hal yang kita senangi. Terlepas dari apapun hobi Sobat semua, punya banyak waktu untuk melakukan hobi adalah pasti menyenangkan.
  3. Hidup di dunia ini penuh risiko. Siapapun dari kita pasti akan menghadapi berbagai risiko dalam hidup. Risiko sakit, meninggal atau kecelakaan. Apabila Sobat mengalaminya maka Anda tak akan bisa mengandalkan fisik Anda untuk mendapatkan penghasilan sementara kebutuhan hidup sehari-hari keluarga harus tetap dipenuhi.
  4. Ukuran kekayaan sebenarnya diukur oleh besarnya passive income. Sobat bisa dikatakan kaya apabila passive income Anda bisa membiayai kebutuhan rutin hidup sehingga tidak tergantung lagi pada pekerjaan Sobat semua. Bekerja hanyalah cara untuk menyalurkan hobi dan aktualisasi diri.
Karena itulah saya sebenarnya bermimpi suatu saat nanti, paling tidak pada saat pensiun, memiliki penghasilan pasif yan cukup untuk membiayai  hidup sehari-hari. Sayangnya saya tidak dilahirkan sebagai anak orang kaya yang tak mungkin mengharapkan warisan dan hibah orang tua. Yang bisa saya lakukan adalah bekerja, mengumpulkan modal sedikit demi sedikit untuk menghasilkan passive income di masa depan. Penghasilan dari blog juga saya kira termasuk penghasilan pasif walaupun kita masih harus melakukan usaha dan mengorbankan waktu. Tapi, semakin lama tentu usaha dan waktu semakin berkurang dan income semakin meningkat. Nah, bagaimana dengan Sobat semua?